ANALISIS PERBAIKAN KONDISI LINGKUNGAN
KERJA
TERHADAP BEBAN KERJA MENTAL
PENDAHULUAN
Kondisi lingkungan kerja adalah semua
keadan yang terdapat di sekitar kitavtempat kerja kita kondisi lingkungan yang
baik akan menunjang karyawan untuk melakukan kerja yang maksimal. Faktor-faktor
seperti temperatur, kebisingan , vibrasi dan ketenagan dapat secara langsung
mempengaruhi kinerja tugas ketika mereka
bekerja, hal ini disebabkan beban tekanan psikilogis pekerja yang meningkat
METODE PENELITIAN
Tahapan-tahapan yang akan dilakukan
dalam penelitian ini adalah data yang dikumpulkan untuk menjawab permasalahan
di bagian pencampuran tembakau PR Rejeki abadi sebagai berikut :
a. Beban Kerja operator adalah kan
diukur dengan metode Workload Aseeement Technique ( SWAT ) dimana operator di
minta untuk mengurutkan kartu SWAT yang berjumlah 27 kartu berdasarkan
subjektivitas mereka
b. Pengukuran Bendakerja Mental sebelum
perbaikan kondisi lingkungan kerja , metode Subjective Workload Asessment
Technique ( SWAT ) pertama kali di kembangkan oleh Reid et al pada tahun 1989
menurut reid al 1989 metode ini mengambarkan system kerjasebagai model multi
dimensional dari beban kerja yang terdiri atas tiga dimensi atau factor yaitu
beba waktu ( time load ), beban mental ( Mental affort load ) dan bebam
psikologis ( Psychologial stess load. Time load menujukna jumlah waktu yang
tersedia dalam perencanan, pelaksanaan dan monitoring tugas.
c. Kondisi lingkungan kerja, kondisi
lingkunagn kerja yangdi amati adalah temperature dan kebisingan , sehingga
perlu dilakukan untuk mengetahui kondis lingkungan kerja di bagian pencampuran
yang ada saat ini
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengukuran Beban kerja Mental dengan Metode SWAT pada kondisi
lingkungan kerja saat ini. Pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner kepada
3 responden, yaitu operator pada bagian pencampuran tembakau. Pemakaian masing-masing
merupakan kombinasi tingkatan dari ketiga dimensi SWAT. Sebagai contoh untuk kartu
N terdiri dari kombinasi beban kerja 111, yang berarti berisi beban waktu (T)
rendah, beban usaha mental (E) rendah, dan beban tekanan psikologis rendah.
Sedangkan kartu B terdiri dari kombinasi beban kerja 112, yang erarti berisi
beban waktu (T) rendah, beban usaha mental (E) rendah, dan beban tekanan psikologis
(S) menengah. Hasil pengurutan kartu SWAT keseluruhan dapat dilihat pada Tabel
1. Selain itu, operator diminta untuk memberikan penilaian SWAT pada tiap
elemen pekerjaan pencampuran tembakau dan hasilnya ditunjukkan pada Tabel 2. Hasil
pengurutan kartu kemudian diinputkan ke dalam software SWAT. Input data diuji
validitasnya oleh software dengan uji Konkordansi Kendall untuk menghasilkan Kendall’s
Coefficient of Concordance (Koefisien kesepakatan Kendall). Jika nilai
koefisien ≥ 0,75 maka dapat dikatakan bahwa indeks kesepakatan dalam penyusunan
kartu di antara pekerja relatif sama dan homogen. Dengan demikianebih baik
digunakan Group Scalling Solution GSS). Sebaliknya jika nilai koefisien <
0,75(maka dibutuhkan skala akhir yang terpisah, baik berdasarkan Prototyped
Scalling Solution (PSS)
SIMPULAN
Kondisi lingkungan kerja menjadi lebih baik dan lebih nyaman
dengan adanya penambahan blower dan penggunaan earplug (penutup ) telinga)
sehingga dapat menurunkan beban kerja operator di bagian pencampuran tembakau
PR Rezeki Abadi. Berdasarkan pengukuran beban
kerja dengan metode SWAT, rata-rata beban kerja operator
pencampuran tembakau sebelum dilakukan perbaikan kondisi lingkungan kerja
termasuk dalam kategori berat
DAFTAR PUSTAKA
Purwaningsih, R., dan Sugianto, A., 2007. Analisis Beban
Kerja Mental Dosen Teknik Industri Undip dengan Metode Subjective Workload Assesment
Technique (SWAT), J@TI Undip, II (2), 28–39. Reid, G.B., Potter, S.S., and
Bressler, J.R., 1989,
Subjective Workload Assessment Technique
Tidak ada komentar:
Posting Komentar