Selasa, 16 Desember 2014

ANALISIS PERBAIKAN KONDISI LINGKUNGAN KERJA TERHADAP BEBAN KERJA MENTAL

ANALISIS PERBAIKAN KONDISI LINGKUNGAN KERJA
TERHADAP BEBAN KERJA MENTAL

PENDAHULUAN
Kondisi lingkungan kerja adalah semua keadan yang terdapat di sekitar kitavtempat kerja kita kondisi lingkungan yang baik akan menunjang karyawan untuk melakukan kerja yang maksimal. Faktor-faktor seperti temperatur, kebisingan , vibrasi dan ketenagan dapat secara langsung mempengaruhi kinerja tugas  ketika mereka bekerja, hal ini disebabkan beban tekanan psikilogis pekerja yang meningkat
METODE PENELITIAN
Tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah data yang dikumpulkan untuk menjawab permasalahan di bagian pencampuran tembakau PR Rejeki abadi sebagai berikut :
a.     Beban Kerja operator adalah kan diukur dengan metode Workload Aseeement Technique ( SWAT ) dimana operator di minta untuk mengurutkan kartu SWAT yang berjumlah 27 kartu berdasarkan subjektivitas mereka
b.     Pengukuran Bendakerja Mental sebelum perbaikan kondisi lingkungan kerja , metode Subjective Workload Asessment Technique ( SWAT ) pertama kali di kembangkan oleh Reid et al pada tahun 1989 menurut reid al 1989 metode ini mengambarkan system kerjasebagai model multi dimensional dari beban kerja yang terdiri atas tiga dimensi atau factor yaitu beba waktu ( time load ), beban mental ( Mental affort load ) dan bebam psikologis ( Psychologial stess load. Time load menujukna jumlah waktu yang tersedia dalam perencanan, pelaksanaan dan monitoring tugas.
c.      Kondisi lingkungan kerja, kondisi lingkunagn kerja yangdi amati adalah temperature dan kebisingan , sehingga perlu dilakukan untuk mengetahui kondis lingkungan kerja di bagian pencampuran yang ada saat ini

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengukuran Beban kerja Mental dengan Metode SWAT pada kondisi lingkungan kerja saat ini. Pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner kepada 3 responden, yaitu operator pada bagian pencampuran tembakau. Pemakaian masing-masing merupakan kombinasi tingkatan dari ketiga dimensi SWAT. Sebagai contoh untuk kartu N terdiri dari kombinasi beban kerja 111, yang berarti berisi beban waktu (T) rendah, beban usaha mental (E) rendah, dan beban tekanan psikologis rendah. Sedangkan kartu B terdiri dari kombinasi beban kerja 112, yang erarti berisi beban waktu (T) rendah, beban usaha mental (E) rendah, dan beban tekanan psikologis (S) menengah. Hasil pengurutan kartu SWAT keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 1. Selain itu, operator diminta untuk memberikan penilaian SWAT pada tiap elemen pekerjaan pencampuran tembakau dan hasilnya ditunjukkan pada Tabel 2. Hasil pengurutan kartu kemudian diinputkan ke dalam software SWAT. Input data diuji validitasnya oleh software dengan uji Konkordansi Kendall untuk menghasilkan Kendall’s Coefficient of Concordance (Koefisien kesepakatan Kendall). Jika nilai koefisien ≥ 0,75 maka dapat dikatakan bahwa indeks kesepakatan dalam penyusunan kartu di antara pekerja relatif sama dan homogen. Dengan demikianebih baik digunakan Group Scalling Solution GSS). Sebaliknya jika nilai koefisien < 0,75(maka dibutuhkan skala akhir yang terpisah, baik berdasarkan Prototyped Scalling Solution (PSS)


SIMPULAN
Kondisi lingkungan kerja menjadi lebih baik dan lebih nyaman dengan adanya penambahan blower dan penggunaan earplug (penutup ) telinga) sehingga dapat menurunkan beban kerja operator di bagian pencampuran tembakau PR Rezeki Abadi. Berdasarkan pengukuran beban
kerja dengan metode SWAT, rata-rata beban kerja operator pencampuran tembakau sebelum dilakukan perbaikan kondisi lingkungan kerja termasuk dalam kategori berat
DAFTAR PUSTAKA
Purwaningsih, R., dan Sugianto, A., 2007. Analisis Beban Kerja Mental Dosen Teknik Industri Undip dengan Metode Subjective Workload Assesment Technique (SWAT), J@TI Undip, II (2), 28–39. Reid, G.B., Potter, S.S., and Bressler, J.R., 1989,

Subjective Workload Assessment Technique

Tidak ada komentar:

Posting Komentar