Jumat, 19 Desember 2014

Analisis Matematis dan Ekonomis Pengunaan Metanol dan Etanol pada Kompor HD




DWI PRIYO UTOMO
Abstrak
Kebutuhan energi yang tinggi mengakibatkan harga bahan bakar semakin meningkat. Hal ini berdampak pada sekt or ktor dunia usaha, karena biaya produksi semakin meningkat tanpa diimbangi peningkatan daya beli pasar. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah penggunaan bahan bakar alternatif yang ekonomis, seperti:bioetanol, alkohol, metanol, dan etanol. Unytuk menguji efisiensi bahan bakar itu dibutuhkan kompor yang sesuai. Pada penelitian ini digunakan alat pemanas yang bernama kompor "HD". Metode yang digunakan untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan bahan bakar metanol dan etanol adalah metode air mendidih. Pengukuran dilakukan terhadap parameter: volume air dalam panci, suhu air sebelum dipanaskan, berat penggunan bahan bakar, berat jenis bahan bakar, perbedaan temperature, total energi diserap, jumlah energi diserap, energi minimum yang diperlukan, dan jumlah air yang dididihkan. Berdasarkan hasil analisis matematis, disimpulkan bahwa penggunaan bahan bakar etanol memiliki kecepatan pendidihan lebih tinggi dibandingkan metanol. Penggunaan bahan bakar metanol kadar 85% pada kompor HD lebih ekonomis karena terjadi penghematan Rp 544.984,00 untuk peternakan ayam potong per 1000 ekor dalam satu periode usaha 40 hari.
kata kunci: kompor HD, metanol, etanol, analisis matematis-ekonomis

Penggunaan bahan bakar yang efisien sangat diperlukan agar biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat pengguna bahan bakar bisa seminimal mungkin. Para pelaku usaha yang menggunakan alat pemanas sangat berkepentingan dengan bahan bakar yang efisien ini. Dengan adanya peraturan baru pembatasan subsidi untuk elpiji, maka perlu dipikirkan alternatif penggunakan bahan bakar lain yang lebih efisien dan ekonomis. Sehingga penggunaan bahan bakar selain minyak tanah dan elpiji perlu dipertimbangkan lagi. Pada penelitian ini, lebih dikhususkan pada penggunaan bahan bakar cair yaitu etanol dan metanol. Etanol adalah alkohol gandum, atau formula tanaman massa yang berasal dari gula alami yang ditemukan dalam massa bio, atau tumbuh-tumbuhan seperti jagung, gandum, barley, kentang dan tebu.
Kompor HD ini dirancang dengan sistem pembakaran gas bahan bakar hasil pemanasan bahan bakarnya. Tabung bahan bakar terpisah dengan kompor kemudian dihubungkan dengan menggunakan selang. Tabung bahan bakar tersebut dari tabung plastik transparan dengan skala pengukuran. Dengan cara ini akan lebih mudah untuk dilakukan pengukuran penggunaan bahan bakarnya. Penelitian dilakukan untuk mengetahui efisiensi bahan bakar metanol dan etanol dengan beberapa kadar metanol dan etanol dengan cara mencampurnya dengan air. Metode yang digunakan adalah metode air mendidih.
Dari hasil penelitian menggunakan metanol, api keluaran dari burner stabil berwarna biru untuk metanol kadar 100% dan 93%, sedangkan untuk metanol kadar 85% api tetap stabil tetapi berwarna sedikit kemerahan. Sedangkan untuk metanol kadar 80% api berwarna kemerahan tetapi api menyala kurang stabil sehingga pada saat digunakan untuk memasak air suhu air bertahan pada suhu 91° C mulai menit ke-17 dan stabil tanpa ada kenaikan hingga ditunggu sampai 5 menit tidak ada kenaikan suhu bahkan kadang turun, sehingga penelitian untuk penggunaan bahan bakar metanol kadar 80% dihentikan.
Dari data diketahui bahwa dengan menggunakan metanol 85%, nyala api selama 1.077 detik menghabiskan 50 ml. bahan bakar. Artinya dengan penggunaan 1 liter metanol 85% kompor bisa digunakan menyalakan api dengan stabil selama 21.980 detik atau 6 jam 6 menit. Berarti biaya pemanasan per kompor per jamnya adalah Rp 868,-. Hal ini berarti jika selama ini penggunaan kompor elpiji di lingkungan usaha peternakan ayam potong menghabiskan satu tabung elpiji subsidi kemasan 3 kg selama 8 jam penyalaan untuk satu kompor. Dengan asumsi harga elpiji subsidi 3 kg adalah Rp. 13.000,- maka biaya pemanasan per kompor per jamnya adalah Rp. 1.625,- Dengan demikian penghematan yang bisa diperoleh jika menggunakan bahan bakar metanol 85% adalah Rp. 757,- per kompor per jamnya.
Bahan bakar etanol bisa digunakan pada kompor HD hingga kadar etanol 85% degan nyala api stabil berwarna biru sedikit kemerahan. Demikian juga, pada metanol kadar 85%. Nyala apinya stabil berwarna biru sedikit kemerahan. Dari hasil analisis matematis dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahan bakar etanol memiliki kecepatan pendidihan paling tinggi karena etanol memiliki nilai kalor yang paling tinggi. Walaupun waktu pendidihan metanol relatif lebih lama dibandingkan etanol, namun penggunaan bahan bakar metanol masih lebih ekonomis. Secara ekonomis, pemanas kandang ayam (pada usaha peternakan ayam potong) direkomendasikan untuk menggunakan bahan bakar metanol kadar 85% karena dari hasil penelitian menunjukkan penghematan yang sangat signfikan, yaitu Rp 544.984,- untuk peternakan ayam potong per 1000 ekor dalam satu periode usaha 40 hari.
DAFTAR PUSTAKA
Anozie, A.N and Bakare, A.R., 2004. "Evaluation of Cooking Energy Cost, Efficiency, Impact on Air Pollution and Policy in Nigeria."
Hariyanto, W.W. dkk., 2007. "Ethanol Electro-Oxidation on ptceo2/C Catalist in Direct Ethanol Fuel Cell "Journal of Chemical and Natural Resources Engineering, 2: 47–61 FKKKSA, Universiti Teknologi Malaysia.
Laksmi, A., dkk., 2010. Perancangan Ulang Kompor Bioetanol dengan Menggunakan Pendekatan Metode Quality Function Deployment (Qfd) dan Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadatch (Triz). http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-12645-Paper.pdf
Pusat Informasi Energi, 2003. Statistik Ekonomi Energi Indonesia 2002. Jakarta: Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.
Rajvansi, Anil K, dkk., 2007. Low-concentration ethanol stove for rural areas in India. Nimbkar Agricultural Research Institute (NARI).
Robinson, J., 2006. Bio-Ethanol as a Household Cooking Fuel: A Mini Pilot Study of the SuperBlu Stove in Peri-Urban Malawi. Loughborough University.

Analisis Variabel yang mempengaruhi Pertumbuhan dan peningkatan daya saing Industri amplang samarinda



MURIANI EMELDA ISHARYANI, MUHAMMAD YUDA ANANTA, DEASY KARTIKA RAHAYU K
ABSTRAK
Beberapa masalah yang terjadi pada industri amplang Samarinda menuntut perlunya diketahui indikator dan faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri amplang Samarinda. Identifikasi dan analisis dilakukan dengan metode Structural Equation Modelling (SEM) terhadap indikator dan faktor dari model Diamond Porter. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa semua indikator yang menyusun dan membentuk setiap faktor dari model Diamond Porter terbukti mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap masing-masing faktornya. Setiap indicator terbukti berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri amplang Samarinda. Faktor-faktor dari model Diamond Porter secara positif dan signifikan terbukti berpengaruh terhadap pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri amplang Samarinda. Dari faktor-faktor maupun indikator-indikator yang berpengaruh tersebut, dapat diidentifikasi bahwa faktor kondisi dan sumber daya serta indikator ketersediaan sumber daya modal merupakan faktor dan indikator yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri amplang Samarinda.
Kata kunci: industri amplang, pertumbuhan dan peningkatan daya saing, model diamond porter, SEM
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui indikator-indikator dan faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan peningkatandaya saing industri amplang di Samarindayang diharapkan dapat memberikan suaturekomendasi yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan meningkatkan daya saing industri amplang di Samarinda. Metode Structural Equation Modelling (SEM) digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh faktor beserta indikator dari model Diamond Porter terhadap pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri amplang di Kota Samarinda.
Salah satu IKM yang cukup berkembang pesat di Samarinda adalah industri makanan amplang yaitu makanan ringan yang terbuat dari bahan baku ikan berbentuk bulat dan berwarna putih kecoklat-coklatan. Saat ini telah banyak IKM yang didirikan oleh masyarakat dan bergerak dalam industri produksi ataupun penjualan produk amplang. Dari wawancara dengan beberapa para pengusaha amplang diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan yang terjadi pada IKM produk amplang ini khususnya terkait dengan problematika daya saing, seperti biaya produksi yang terus meningkat sehingga produk yang ditawarkan harganya tinggi, kapasitas penjualan masih terbatas, masalah kaderisasi IKM, segala aktivitas penjualan dan promosi yang masih dipegang sendiri oleh pemilik usaha, serta adanya permasalahan ketersediaan bahan baku utama yang semakin lama semakin sulit dicari.

Analisis pengaruh indikator terhadap factor dalam hal ini bisa disebut dengan analisis outer model. Pada dasarnya, analisis outer model merupakan pengujian validitas dan reliabilitas terhadap variabel-variabel yang diukur. Terdapat tiga kriteria untuk menilai outer model yaitu convergent validity, discriminant validity, dan composite reliability.
1. Convergent Validity
Convergent validity bertujuan untuk memvalidasi apakah semua item-item yang menjadi indikator dari suatu konstruk mempunyai hubungan yang signifikan dengan konstruknya, yang dinilai dari besarnya nilai faktor loading masing-masing indicator terhadap konstruknya. Terlihat pada Tabel 1 bahwa semua indicator memiliki nilai faktor loading > 0,7 maka dapat disimpulkan bahwa indikator pada factor memiliki hubungan korelasi yang positif dan signifikan dengan konstruknya serta memiliki validitas konvergen yang baik yang artinya semua indikator-indikator mampu mengukur atau menjadi alat ukur yang tepat dan cermat terhadap masing-masing faktornya (valid).
2. Discriminant Validity
Discriminant validity berguna untuk menilai apakah konstruk memiliki validitas diskriminan yang memadai yaitu dengan cara membandingkan korelasi antara indicator dengan konstruknya harus lebih tinggi dibandingkan korelasi dengan konstruk lainnya. dapat dilihat pada Tabel 3, di mana semua konstruk memiliki nilai AVE > 0,5 yang menunjukkan bahwa setiap faktor telah mampu memprediksi faktor loading indikatorindikator yang berkorelasi dengannya lebih baik dibanding faktor lainnya.
3. Composite Reliability
Composite Reliability digunakan untuk mengukur internal consistency dari sebuah blok konstruk.
Secara umum terlepas dari kondisi factor sumber daya dan ketersediaan sumber daya modal merupakan faktor dan indikator yang paling berpengaruh berdasarkan dari hasil penelitian ini, namun seluruh faktor dan indikator yang ada harus tetap dipertimbangkan bersama oleh seluruh lapisan stakeholders terkait karena semua faktor dan indikator terbukti secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri amplang Kota Samarinda.
Berdasarkan analisis inner model, faktor-faktor dari model Diamond Porter yang memengaruhi pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri amplang Kota Samarinda secara positif dan signifikan adalah faktor kondisi, faktor sumber daya, faktor kondisi permintaan, faktor industri pendukung dan industri terkait, faktor struktur pasar, persaingan, dan strategi perusahaan, faktor peran pemerintah, serta faktor kesempatan. Menurut para pengusaha penjualan amplang di Kota Samarinda, factor dan indikator yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri amplang Kota Samarinda adalah factor kondisi sumber daya dan indikator ketersediaan sumber daya modal.

DAFTAR PUSTAKA
Bappeda Samarinda, http://bappeda.samarindakota.go.id/profil_05.php, diakses tanggal 20-10-2013 pukul 13.34 WITA.
Ghozali, I. dan Fuad, 2006. Structural Equation Modeling, Teori Konsep dan Aplikasi, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Ghozali, I., 2011. Structural Equation Modelling: Metode Alternatif dengan Partial Least Square, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hair Joseph F.JR, Anderson Rolp E., Tatham Ronald L., Black C. William, 2006. Multivariate Data Analysis, 6th Edition, Pearson Education Inc.
Handayani, N.U., Santoso, H., dan Pratama, A.I.., 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Daya Saing Klaster Mebel di Kabupaten Jepara, Jurnal Teknik Industri, 13 (1), 22–30.
Porter, M., 1990. The Competitive Advantage of Nations, New York: Free Press.
Rozandy, R.A., Santoso, I., Putri, S.A., 2013. Analisis Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Tingkat Adopsi Teknologi dengan Menggunakan Partial Least Square (Studi Kasus: Sentra Industri Tahu Desa Sendang Kec. Banyakan Kediri. Jurnal
Industria, 1 (3), 147–158.
Shanmugam, K.R., and Bhaduri, S.N., 2002. Size, Age and Firm Growth in the Indian Manufacturing Sector, Applied Economics Letters.
Susanty, A., Handayani, N.U., dan Jati, P.A., 2013. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Klaster Batik Pekalongan (Studi Kasus Pada Klaster Batik Kauman, Pesindon dan Jenggot), J@ti Undip, VIII (1).

Susilo, S., 2007. Pertumbuhan Usaha Industri Kecil-Menengah (IKM) dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya. Eksekutif: Jurnal Nasional Manajemen Bisnis. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IBMT, 4 (2), 306–313.

Selasa, 16 Desember 2014

ANALISIS PERBAIKAN KONDISI LINGKUNGAN KERJA TERHADAP BEBAN KERJA MENTAL

ANALISIS PERBAIKAN KONDISI LINGKUNGAN KERJA
TERHADAP BEBAN KERJA MENTAL

PENDAHULUAN
Kondisi lingkungan kerja adalah semua keadan yang terdapat di sekitar kitavtempat kerja kita kondisi lingkungan yang baik akan menunjang karyawan untuk melakukan kerja yang maksimal. Faktor-faktor seperti temperatur, kebisingan , vibrasi dan ketenagan dapat secara langsung mempengaruhi kinerja tugas  ketika mereka bekerja, hal ini disebabkan beban tekanan psikilogis pekerja yang meningkat
METODE PENELITIAN
Tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah data yang dikumpulkan untuk menjawab permasalahan di bagian pencampuran tembakau PR Rejeki abadi sebagai berikut :
a.     Beban Kerja operator adalah kan diukur dengan metode Workload Aseeement Technique ( SWAT ) dimana operator di minta untuk mengurutkan kartu SWAT yang berjumlah 27 kartu berdasarkan subjektivitas mereka
b.     Pengukuran Bendakerja Mental sebelum perbaikan kondisi lingkungan kerja , metode Subjective Workload Asessment Technique ( SWAT ) pertama kali di kembangkan oleh Reid et al pada tahun 1989 menurut reid al 1989 metode ini mengambarkan system kerjasebagai model multi dimensional dari beban kerja yang terdiri atas tiga dimensi atau factor yaitu beba waktu ( time load ), beban mental ( Mental affort load ) dan bebam psikologis ( Psychologial stess load. Time load menujukna jumlah waktu yang tersedia dalam perencanan, pelaksanaan dan monitoring tugas.
c.      Kondisi lingkungan kerja, kondisi lingkunagn kerja yangdi amati adalah temperature dan kebisingan , sehingga perlu dilakukan untuk mengetahui kondis lingkungan kerja di bagian pencampuran yang ada saat ini

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengukuran Beban kerja Mental dengan Metode SWAT pada kondisi lingkungan kerja saat ini. Pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner kepada 3 responden, yaitu operator pada bagian pencampuran tembakau. Pemakaian masing-masing merupakan kombinasi tingkatan dari ketiga dimensi SWAT. Sebagai contoh untuk kartu N terdiri dari kombinasi beban kerja 111, yang berarti berisi beban waktu (T) rendah, beban usaha mental (E) rendah, dan beban tekanan psikologis rendah. Sedangkan kartu B terdiri dari kombinasi beban kerja 112, yang erarti berisi beban waktu (T) rendah, beban usaha mental (E) rendah, dan beban tekanan psikologis (S) menengah. Hasil pengurutan kartu SWAT keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 1. Selain itu, operator diminta untuk memberikan penilaian SWAT pada tiap elemen pekerjaan pencampuran tembakau dan hasilnya ditunjukkan pada Tabel 2. Hasil pengurutan kartu kemudian diinputkan ke dalam software SWAT. Input data diuji validitasnya oleh software dengan uji Konkordansi Kendall untuk menghasilkan Kendall’s Coefficient of Concordance (Koefisien kesepakatan Kendall). Jika nilai koefisien ≥ 0,75 maka dapat dikatakan bahwa indeks kesepakatan dalam penyusunan kartu di antara pekerja relatif sama dan homogen. Dengan demikianebih baik digunakan Group Scalling Solution GSS). Sebaliknya jika nilai koefisien < 0,75(maka dibutuhkan skala akhir yang terpisah, baik berdasarkan Prototyped Scalling Solution (PSS)


SIMPULAN
Kondisi lingkungan kerja menjadi lebih baik dan lebih nyaman dengan adanya penambahan blower dan penggunaan earplug (penutup ) telinga) sehingga dapat menurunkan beban kerja operator di bagian pencampuran tembakau PR Rezeki Abadi. Berdasarkan pengukuran beban
kerja dengan metode SWAT, rata-rata beban kerja operator pencampuran tembakau sebelum dilakukan perbaikan kondisi lingkungan kerja termasuk dalam kategori berat
DAFTAR PUSTAKA
Purwaningsih, R., dan Sugianto, A., 2007. Analisis Beban Kerja Mental Dosen Teknik Industri Undip dengan Metode Subjective Workload Assesment Technique (SWAT), J@TI Undip, II (2), 28–39. Reid, G.B., Potter, S.S., and Bressler, J.R., 1989,

Subjective Workload Assessment Technique

Rabu, 16 Oktober 2013

Industri Plastik

INDUSTRI PLASTIK 
        Plastik tentu sangatlah ngak asing lagi bagi kita semua, dan plastik sudah menjadi kebutuhan yang hampir menjadi suatu keharusan bagi kita contohnya kalau kita ke pasar , kepusat perbelanjaaan dan di swalayan pasti setiap kita mau membawa hasil belanjaan kita telah disiapkan kantong plastik tentunya dalam jumlah yang banyak dan sesuai dengan kebutuhan barang yang kita beli, semakin banyak belanjaan kita maka semakin banyak pula kantong plastik yang akan kita perlukan. Plastik yang kita pakai dalam sehari-hari ini tentunya ada keuntunganya dan tentunya ada pula dampak negatifnya, keuntunganya kita ngak terlalu ribet bwa tas dari rumah dengan cukup kantong plastic yang tentunya telah di sediakan dari toko ataupun swalayan dimana di tempat kita berbelanja, dan dapak negatifnya adalah palstik yang telah kita pakai dan kita buang ke tempat sampah itu tedak langsung terurai dan hancur begitu aja dan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengurai plastik tersebut. 
        Istilah plastik mencakup produk polimerisasi sinntetik atau semi sintetik, plastik dapat di bentuk menjadi film atau fiber sintetik, nama ini berasal dari fakta bahwa banyak dari mereka “malleable” memiliki properti keplastikan. Plastik didesain dengan variasi yang sangat banyak dalam property yang dapat menoleransi panas, keras, “reliency” dan lain-lain, digabung dengan adaptasinya, komposisi yang umum dan beratnya yang ringan memastikan palstik digunakan hampir di seluruh bidang industri. Plastik merupakan material yang baru secara luas dikembangkan dan digunakan sejak abad ke 20 yang berkembang secara luar biasa pengunaaanya dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 ton/tahun, pada tahun 1990-an dan 220 jut ton/tahun pada tahun 2005. Saat ini pengunaan material palstik di negara-negara Eropa Barat mencapai 60 kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2kg/orang/tahun. Jenis Plastik : Plastik dapat di golongkan berdasarkan : 
      1. Sifat fisikanya : Termoplastik adalah merupakan jenis palstik yang bisa didaur- ulang/ dapat dicetak lagi dengan proses pemanasan ulang. Contoh : Polietilen (PE), Polistiren (PS), ABS, Polikarbonat (PC). Termoset adlah merupakan jenis plastik yang tidak bias di daur-ualang/ dicetak lagi.pemanasan ulang akan menyebabkan kerusakan molekul-molekulnya. Contohnya Resin epoksi,bakelit,resin melamin,urea-formaldehida.                                                                                       
     2. Kinerja dan pengunaanya : Plastik Komoditas : -sifat mekanik tidak terlau bagus dan tidak tahan panas. Contohnya ; PE,PS,ABS,PMMA,SAN -Aplikasi : barang-barang electronik, pembukus makanan, botol minuman. Plastik Tehnik : -Tahan Panas, temperatur operasi di atas 100o C. -Sifat mekanik bagus contohnya : PA,POM,PC,PBT -Aplikasi : komponen otomotif dan elektronik. Plastik Tehnik Khusus : -Temperatur operasi diatas 150oC. -Sifat mekanik sangat bagus dan kekuatan tarik diatas 500 Kgf/cm Contohnya : PSF,PES, PAI dan PAR . 
Proses Manufaktur Plastik di sebuh industri ada beberapa tahapan: 

    1. Injection Olding : Biji plastik ( Pellet ) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas di         injeksikan kedalam cetakan. 
   2. Ekstruksi: Biji Plastik ( Pellet ) yang dilelehkan oleh srup di dalam tabung yang berpemanas secara terus        menerus lalu di tekan melalui sebuah Orifice sehingga menghasilkan penampang yang diharapkan.
   3.  Thermoforming : Lembarab plastik yang dipanaskan lalu ditekan ke dalam suatu cetakan.
  4. Blow Molding : Biji plastik (Pellet ) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas secara terus menerus dan di ekstrusi membentuk pipa ( parison ) kemudian di tiup di dalam cetakan. 
    Sifat polimer konduktif : Polimer semikonduktif dan konduktif adalah polimer terkonjugasi yang menunjukkan perubahan ikatan tunggal dan ganda antara atom-atom karbon pada rantai utama polimer. Ikatan ganda diperoleh dari karbon yang memiliki empat electron valensi, namum pada molekul terkonjugasi hanya memiliki tiga ( kadang-kadang dua ) atom lain. Elektron yang tersisa membentuk ikatan yang terdelokalisasi pada seluruh molekul. Suatu zat dapat bersifat polimer konduktif jika mempunyai ikatan rangkap yang terkonjugasi, Contoh dari polimer terkonjugasi adalah plastik tradisional ( Polyethylen ), sedangkan polimer konduktif antara lain : Polyacetilen, polpyrol, polytiopen, polyaniline dan lain-lain dan di indonesia merupakan salah satu penghasil biji palstik untuk jenis Polyproylene atau PP dan High Desity PolyEthylene atau HDPE. Demikian sekelumit tentang plastik dan bagai mana cara proses manufakturnya sehingga kita sebagai masyarakat dapat lebih mengetahui tentang apa itu plastik dan sejarahnya maupun proses produksinya. Sehingga waktu palstic tersebut jatuh ketangan kita sudah berbentuk barang jadi yang siap kita gunakan untuk membantu kehidupan kita sehari-hari tentunya. 


Sumber Artilkel dari  : http/id.wikipedia.org/wiki/Plastik 
                                   mwplastik.wordpress.com/      
                                   https://www.facebook.com/pages/...Industri-Plastik.../132960940053639
                                   www.chem-is-try.org/.../jenis-jenis-utama-plastik-dan-cara-pembuatan-pl...   ‎                                         http://www.scribd.com/doc/56451588/proses-pengerjaan-plastik